Filosofi Jenang Sapar

Filosofi Jenang Sapar
KIM Mayangsari - Njenang Sapar adalah adat tradisi budaya peninggalan leluhur yang adiluhung dan dilaksanakan  tepat di bulan sapar. Salah satu warga RW.07 yang juga merupakan anggota lembaga budaya Desa Pesanggrahan (Andi Tri Sudrajat) mengungkapkan bahwa  masyarakat dusun serbet timur Desa Pesanggrahan  merayakan bulan Safar atau Saparan dalam betuk kegiatan Selamatan Jenang Sapar, yakni kegiatan masak besar jenang grendul (kolak biji salak) oleh para perempuan warga RW.07 Jenang Grendul)  Njenang Sapar sendiri bermakna mijil nya sebuah bibit unggul untuk menjaga warisan leluhur. Warisan leluhur yang dimaksud adalah adat tradisi kesenian dan kebudayaan yang di sajikan atau melibatkan oleh para pemuda pada setiap prosesinya sebab para pemuda adalah penerus bangsa dalam hal pelestarian adat istiadat terutama di bidang Kesenian Tradisi dan Kebudayaan. Filosofi Jenang Sapar (Jenang Grendul) asal dumadining manusia SIMBOL MAKNA DARI  MASKUMAMBANG yang memiliki makna tentang perjalanan (SAFARUN) hidup manusia  yang masih berwujud janin dalam kandungan (Alam Rahim).  Grendul yang berbentuk bulat-bulat yang dari ketan itu mencerminkan sebuah cikal bakal manusia. Di mana, sejatinya manusia berasal dari hal yang sama, jadi meskipun berbeda-beda akan menjadi manis jika bersatu. Semua perpaduan komponen jenang tersebut menciptakan rasa khas. Artinya, persatuan dari perbedaan itu menghasilkan rasa manis yang diharapkan mampu menumbuhkan semangat kebersamaan. Mengingat kegiatan-kegiatan serupa yang diselanggarakan tahun-tahun sebelumnya, ternyata masyarakat selain sangat antusias juga menjadi hiburan yang merakyat dengan nuansa uri uri budaya jawa dan sangat penting nya akan kesakralan sebuah prosesi njenang sapar yang sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Nuansa kebersamaan masyarakat dan besarnya animo masyarakat yang datang berpartisipasi juga datang dari Dusun sekitar Desa Pesanggrahan meluasnya se Kota Batu, maka dengan diadakan acara ini di harapkan menjadi contoh tauladan untuk desa se Kota Batu. Jenang sapar disajikan saat memasuki bulan Safar. Makanan berbahan dasar beras ketan dengan dicampur gula merah ini memiliki rasa cenderung manis. Proses memasak njenang sapar selama 2.5 jam. Jenang sapar sendiri terdiri dari dua bagian utama yaitu grendul dan kuah gula merah. Grendul merupakan olahan berbentuk bulat dari tepung, sementara kuah gula berwarna coklat merupakan kuah yang berasal dari bahan dasar gula merah. Njenang Sapar Pesanggrahan dilakukan secara bersama sama masyarakat dan tokoh masyarakat dengan menggunakan KENCENG (kawah/wajan besar)yang sebelumnya dilakukan acara syakral arak2an kenceng guna mengenalkan kembali kepada masyarakat akan pentingnya warisan leluhur jaman dahulu.